Kamis, 23 Mei 2013

Arti Gaul Sesungguhnya

Mungkin orang beranggapan bahwa anak gaul itu identik dengan aneka pernak-pernik yang melekat ditubuhnya. Seperti, gelang, cincin, anting-anting, kalung, rantai, dan lain-lain.
Pernyataan di atas diperkuat dari hasil perbincangan dengan teman-teman sekolah. Banyak siswa yang beranggapan bahwa anak gaul itu adalah sama seperti yang di atas. Padahal, arti dari gaul itu sendiri bukanlah demikian.
Banyak anak muda menganggap jika tidak merokok bukanlah anak gaul atau pun jika tidak menindidik telinganya (khusus cowok) itu bukan anak gaul. Namun, anggapan itu salah. Jika kita merokok justru merugikan kesehatan dan memboroskan uang jajan dan menindik telinga itu sangatlah sakit, kalau asal-asalan bisa tetanus dan berakibat kematian. Death. K. O.
Sekarang, jika ingin mengetahui arti gaul itu sebenarnya, bukalah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dan cari pada halaman “G” istlah “gaul” Jika telah menemukannya, arti gaul itu adalah hidup berteman atau bersahabat. Jadi, dapat disimpulkan bahwa anak gaul adalah anak yang hidup berteman. Bersahabat dengan teman-teman dilingkungannya. Jadi, dari mana kita mendapatkan bahwa anak gaul itu harus menggunakan pernak-pernik itu? Jawabannya hanya satu. Trend. Trend adalah model-model yang digemari pada masa-masa tertentu. Pada saat lagi nge-trend memakai jaket di sekolah, semua memakainya. Saat nge-trend rambut berdiri kayak Bangsa Seiya (berdiri, mohawk), semua mendirikan rambutnya.
Itulah sebagian contoh yang dimasukkan dalam persyaratan menjadi anak gaul. Padahal semua itu salah. Untuk menjadi anak gaul hanyalah tinggal bersahabat dengan orang-orang sekitar atau tetangga, tapi harus pilih-pilih dulu dan mengetahui apa-apa saja yang telah terjadi di daerahnya.
Jadi, kalau ingin disimpulkan lagi lebih mendalam, anak gaul adalah anak yang bersahabat dengan seseorang atau lebih di dalam masyarakat dan daerah tertentu.
Jadi, bahwa anak gaul itu sesungguhnya tidaklah harus memakai pernak-pernik yang menonjolkan ciri khas preman. Melainkan, anak gaul adalah orang yang bersahabat dengan siapa saja dan dimana saja, asalkan yang menjadi sahabat kita itu bukanlah sampah masyarakat.

Kamis, 09 Mei 2013

INDONESIA ADALAH ATLANTIS YANG HILANG?

Bukti Ilmiah Indonesia Adalah Benua Atlantis Yang Hilang | Musibah alam beruntun dialami Indonesia. Mulai dari tsunami beberapa tahun silam di Aceh hingga yang mutakhir semburan lumpur panas di Jawa Timur. Hal itu mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai Benua Atlantis. Apakah ada hubungan antara Indonesia dan Atlantis?


Plato (427 – 347 SM) menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis.
gambar bukti Indonesia Adalah Benua Atlantis Yang Hilang - munsypedia

Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis itu adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menghasilkan buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization. Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia. Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia, menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi oleh Candi Borobudur, Piramida di Mesir, dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.

Bukan kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atas gagasan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja melalui UU no. 4 Perpu tahun 1960, mencetuskan Deklarasi Djoeanda. Isinya menyatakan bahwa negara Indonesia dengan perairan pedalamannya merupakan kesatuan wilayah nusantara. Fakta itu kemudian diakui oleh Konvensi Hukum Laut Internasional 1982. Merujuk penelitian Santos, pada masa puluhan ribu tahun yang lalu wilayah negara Indonesia merupakan suatu benua yang menyatu. Tidak terpecah-pecah dalam puluhan ribu pulau seperti halnya sekarang.

Santos menetapkan bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi yang aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Teori Plato menerangkan bahwa Atlantis merupakan benua yang hilang akibat letusan gunung berapi yang secara bersamaan meletus. Pada masa itu sebagian besar bagian dunia masih diliput oleh lapisan-lapisan es (era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-puluh gunung berapi secara bersamaan yang sebagian besar terletak di wilayah Indonesia (dulu) itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari es yang mencair. Di antaranya letusan gunung Meru di India Selatan dan gunung Semeru di Jawa Timur. Lalu letusan gunung berapi di Sumatera yang membentuk Danau Toba dengan pulau Samosir, yang merupakan puncak gunung yang meletus pada saat itu. Letusan yang paling dahsyat di kemudian hari adalah gunung Krakatau (Krakatoa) yang memecah bagian Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta membentuk selat dataran Sunda.

Atlantis berasal dari bahasa Sanskrit Atala, yang berarti surga atau menara peninjauan (watch tower), Atalaia (Potugis), Atalaya (Spanyol). Plato menegaskan bahwa wilayah Atlantis pada saat itu merupakan pusat dari peradaban dunia dalam bentuk budaya, kekayaan alam, ilmu/teknologi, dan lain-lainnya. Plato menetapkan bahwa letak Atlantis itu di Samudera Atlantik sekarang. Pada masanya, ia bersikukuh bahwa bumi ini datar dan dikelilingi oleh satu samudera (ocean) secara menyeluruh. Ocean berasal dari kata Sanskrit ashayana yang berarti mengelilingi secara menyeluruh. Pendapat itu kemudian ditentang oleh ahli-ahli di kemudian hari seperti Copernicus, Galilei-Galileo, Einstein, dan Stephen Hawking.

Santos berbeda dengan Plato mengenai lokasi Atlantis. Ilmuwan Brazil it berargumentasi, bahwa pada saat terjadinya letusan berbagai gunung berapi itu, menyebabkan lapisan es mencair dan mengalir ke samudera sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu gunung berapi tersebut membebani samudera dan dasarnya, mengakibatkan tekanan luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama pada pantai benua. Tekanan ini mengakibatkan gempa. Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung yang meletus kemudian secara beruntun dan menimbulkan gelombang tsunami yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich Events.

Dalam usaha mengemukakan pendapat mendasarkan kepada sejarah dunia, tampak Plato telah melakukan dua kekhilafan, pertama mengenai bentuk/posisi bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai letak benua Atlantis yang katanya berada di Samudera Atlantik yang ditentang oleh Santos. Penelitian militer Amerika Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak berhasil menemukan bekas-bekas benua yang hilang itu. Oleh karena itu tidaklah semena-mena ada peribahasa yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya senang kepada Plato tetapi saya lebih senang kepada kebenaran.” Namun, ada beberapa keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni pertama, bahwa lokasi benua yang tenggelam itu adalah Atlantis dan oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya mata rantai gunung berapi di Indonesia. Di antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa, Malabar, Galunggung, Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru, Bromo, Agung, Rinjani. Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif kembali.

Ketiga, soal semburan lumpur akibat letusan gunung berapi yang abunya tercampur air laut menjadi lumpur. Endapan lumpur di laut ini kemudian meresap ke dalam tanah di daratan. Lumpur panas ini tercampur dengan gas-gas alam yang merupakan impossible barrier of mud (hambatan lumpur yang tidak bisa dilalui), atau in navigable (tidak dapat dilalui), tidak bisa ditembus atau dimasuki. Dalam kasus di Sidoarjo, pernah dilakukan remote sensing, penginderaan jauh, yang menunjukkan adanya sistim kanalisasi di wilayah tersebut. Ada kemungkinan kanalisasi itu bekas penyaluran semburan lumpur panas dari masa yang lampau.

Bahwa Indonesia adalah wilayah yang dianggap sebagai ahli waris Atlantis, tentu harus membuat kita bersyukur. Membuat kita tidak rendah diri di dalam pergaula internasional, sebab Atlantis pada masanya ialah pusat peradaban dunia. Namun sebagai wilayah yang rawan bencana, sebagaimana telah dialami oleh Atlantis itu, sudah saatnya kita belajar dari sejarah dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir untuk dapat mengatasinya 
Sumber : Blog Misteri Beda Dunia
Description: Bukti Ilmiah Indonesia Adalah Benua Atlantis Yang Hilang Rating: 4.5 Reviewer: Munsy Afandi - ItemReviewed: Bukti Ilmiah Indonesia Adalah Benua Atlantis Yang Hilang
Kamu sedang membaca info tentang Bukti Ilmiah Indonesia Adalah Benua Atlantis Yang Hilang Silahkan baca info di UN1X PROJECT Tentang Yang lainnya. Kamu boleh menyebar Luaskan atau MengCopy-Paste Artikel ini, Tapi jangan lupa untuk meletakkan Link Bukti Ilmiah Indonesia Adalah Benua Atlantis Yang Hilang Sebagai sumbernya

Minggu, 05 Mei 2013

Smua tentang Komik



  
Di awal 1990-an, Indonesia dibanjiri oleh komik-komik Jepang. Ini terjadi lama setelah masa kejayaan Godam dan Gundala Putra Petir surut di tahun 1970-an. Toko-toko dan tempat persewaan buku dipenuhi cerita bergambar impor dari negeri matahari terbit itu. Komik-komik yang hadir menyajikan tidak saja adegan laga yang diwakili oleh Chinmi, Kenji, Saint Seiya, atau Tiger Wong; tapi juga komik untuk kalangan "abege" (anak baru gede) yang sedang mekar-mekarnya, seperti Candy-Candy atau juga komik jenaka seperti Kobo Chan. Dengan demikian komik buatan negeri kita sendiri makin tenggelam. Karena, sebelum komik Jepang melakukan ekspansi, komik Barat telah lebih dulu bercokol dan cukup punya penggemar fanatik, misalnya seri Walt Disney, lalu Asterix, Trigan, Si Janggut Merah, Tanguy & Laverdur, Tintin, dan masih banyak lagi lainnya. Belum lagi bila dihitung pula komik yang dimuat bersambung seperti Tarzan di harian Suara Merdeka, Garth di harian Kompas, yang masih bertahan sampai sekarang.


Seperti biasanya, muncullah suara-suara "nasionalis" yang menyayangkan mewabahnya komik asing. Yang mempertanyakan mengapa kita tidak memilih komik kita sendiri? Mengapa kita justru bangga dengan para pahlawan dari negeri-negeri (bekas) penjajah? Padahal komik kita tidak kalah bagusnya. Jangankan komik asing, komik kita sendiri pun pernah mengalami perlakuan yang kurang menyenangkan: pernah dituduh sebagai biang kemalasan dan merusak jiwa anak. Jadi wajar belaka bila komik asing lebih dikecam meski dalam kenyataan ternyata sangat disukai. Dan rasanya sulit menemukan seorang bocah yang jiwanya rusak karena komik asing.
Bagaimanapun pro dan kontra seputar merebaknya komik asing memang ada. Tapi bagaimanakah kondisi obyektif percaturan komik di negeri ini? Dari pengamatan di beberapa toko buku Yogyakarta yang terkemuka dan persewaan buku, memang komik asing lebih terhormat kedudukannya. Bahkan beberapa teman saya menyatakan bahwa komik asing lebih bagus. Lalu komik Indonesia? Jawabannya juga sama tidak mengejutkannya: jelek, kering, tidak menarik, terlalu menggurui. Boleh jadi pendapat tersebut belum tentu benar, apriori, karena ada yang belum pernah membaca komik Indonesia. Juga mungkin anggapan seperti itu adalah cerminan dari generasi yang kurang menghargai karya bangsa sendiri? Namun bagaimanapun, anggapan yan terlontar itu adalah fakta. Dan itu bisa dicari penjelasannya.
Meski tidak enak, tindakan membandingkan komik Indonesia dan komik asing tetap perlu dilakukan. Dari situ barangkali bisa diketahui sejauh mana ketertinggalan (buatan orang) Indonesia. Dalam tulisan ini saya akan melihat segi isi cerita, visualisasi dan beberapa faktor lain yang mempengaruhi. 



Bangkitnya Komik Indonesia
Seperti sudah saya sebut, kehadiran komik asing tak perlu diributkan. Tapi komik lokal tetap perlu dikembangkan lagi. Dengan semaraknya komik Indonesia siapa tahu bisa terungkap lebih dalam sebetulnya apa yang menjadi persoalan dalam keinginan orang Indonesia, bagaimana karakter orang Indonesia. Tentu saja banyak buku teks yang mengulas hal demikian. Tapi bila itu bisa dijabarkan melalui media komik, betapa hebatnya!
Komik Indonesia bisa menjadi media informasi yang menghibur sekaligus media hiburan yang informatif. Seperti halnya komik impor, seuniversal apapun nilai yang dibawa, ia tetap mengandung muatan lokal. Kita tak perlu bermimpi memperkenalkan muatan lokal itu pada pembaca asing. Menjabarkannya bagi pembaca bangsa sendiri saja sudah bagus.
Tidaklah adil bila kita mengatakan tidak ada komik Indonesia yang bagus. Komik buatan Dwi Koen yang dimuat di majalah Humor, Sawung Kampret, sebenarnya cukup bagus. Hanya sayang Sawung Kampret tidak tampil penuh warna, sebab dengan penuhnya ruang gambar warna hitam putih membuat komik jadi terkesan suram. Lain halnya kalau Dwi Koen menyisakan banyak bagian yang kosong seperti pada komik-komik Jepang. Ruang kosong itu bisa dibiarkan atau pun diramaikan oleh garis-garis lurus atau lengkung.
Sesungguhnya Sawung Kampret yang mengisahkan jalinan persahabatan antara pribumi dan orang Belanda yang penjajah waktu itu, mengandung gagasan yang sungguh cerdas. Hanya masih ada yang mengganjal, yaitu kekuatan naratif yang kurang terkendali. Juga ide ceritanya kurang jenial. Tapi kemampuan menggagas dan menuangkan cerita sebaiknya dipisahkan dari kemampuan menggambar. Dua kemampuan itu bisa saja ditangani oleh satu orang dan tetap bagus. Ini ditempuh oleh komikus Jepang. Tapi ya itu tadi, gambar yang dihasilkan terasa kering dan kurang indah. Rata-rata komik Perancis dikerjakan oleh pencerita dan ilustrator yang berbeda. Sebagai contoh : Asterix dikerjakan oleh Gosciny pada teks dan Uderzo bertindak selaku ilustrator. Dalam Komando Lebovic mengurusi narasi dan Jules menuangkannya dalam gambar. Pada Lucky Luke: Morris yang menggambar dan Gosciny yang bercerita. Untuk komik yang “kurang berat“ biasanya memang cukup dikerjakan oleh satu orang, misalnya Smurf oleh Peyo sendiri. Tapi komik yang begini kurang mendapat tempat jika si anak sudah beranjak dewasa. Menggagas dan merangkai cerita bukanlah hal mudah bila ingin mencapai hasil maksimal. Diperlukan studi yang mendalam untuk menghasilkan kelincahan memainkan fantasi dan realita, agar tidak kedodoran dan tampak dungu. Entah berapa buku yang harus dibaca Gosciny untuk mengerjakan komik mbambung semacam Lucky Luke yang mempermainkan dengan enaknya sejarah Amerika. Juga bukan pekerjaan gampang untuk membuat Asterix menjadi bahan bacaan berdimensi ganda, dalam arti tiap jenjang usia bisa tertawa oleh pelbagai sebab. Seorang bocah yang membaca Asterix mungkin akan tertawa melihat gaya Obelix mempermak tentara Romawi, tapi ia pasti tidak mengerti di mana lucunya ketika Obelix berkata “singularis porcus” ketika menyebut babi hutan kegemarannya. Atau ketika Asterix dan Obelix bermalam di kandang kambing, mereka berdua bertanya pada teman seperjalanan mereka, “Apa nama tempat ini?” Dan si teman menjawab, “Bethlehem.”
Komik memang bukanlah khusus untuk anak-anak. Namun seandainya Sawung Kampret dibukukan begitu saja, artinya dalam bentuk yang hadir di majalah Humor, tentu anak tidak menyukai keburaman yang ada dalam komik itu. Juga alur cerita yang kurang lancar membuat anak harus mengerutkan kening dan kemudian memilih komik yang lain.
Yang juga penting adalah perhatian terhadap daya fantasi kanak-kanak. Sekalipun kemasannya serius, seperti Si Janggut Merah, namun substansinya menawarkan fantasi bajak laut budiman yang malang melintang mempermalukan armada Spanyol atau Inggris. Bertualang mengarung tujuh lautan sungguh merupakan impian tentang kejantanan, yang diselingi dengan kebaikan budi. Fantasi kanak-kanak tampaknya lekang dengan bertambahnya usia. Di tempat persewaan buku atau toko buku, bisa anda lihat lihat seorang dewasa membaca komik. Ketika Batman difilmkan, ternyata bekas anak-anak yang dulu menggemari Batman masih bersemangat menonton filmnya. Bayangkan apa jadinya bila kisah Terjadinya Kota Banyuwangi yang difilmkan! Bisa kita tebak hasilnya.
Orang dewasa pun tetap punya fantasi kanak-kanak, disadari atau tidak. Atau paling tidak ada rasa rindu pada sesuatu yang riang, keriangan seorang anak. Itulah sebabnya seorang dewasa tetap membaca Donal Bebek. Tapi cobalah sodorkan komik Gareng, Petruk dan Bagong yang berusah tampil dalam kemasan guyon pada anak-anak. Pasti mereka sulit tertawa melihat gerutuan orang dewasa yang sama sekali tidak lucu itu.
Akhirnya harus diakui bahwa jalan panjang masih menunggu maraknya kembali komik Indonesia. Bisa saja komik pribumi sebagus komik asing, bahkan menyaingi atau pun melawannya, tapi untuk apa? Bagaimana pun kemenangan David melawan Goliath hanya adadalam kitab orang-orang terdahulu. Bisa memang kita menyaingi karya impor yang bersejarah panjang itu asal kita punya ramuan berkhasiat Panoramix.[]