Minggu, 05 Mei 2013

Smua tentang Komik



  
Di awal 1990-an, Indonesia dibanjiri oleh komik-komik Jepang. Ini terjadi lama setelah masa kejayaan Godam dan Gundala Putra Petir surut di tahun 1970-an. Toko-toko dan tempat persewaan buku dipenuhi cerita bergambar impor dari negeri matahari terbit itu. Komik-komik yang hadir menyajikan tidak saja adegan laga yang diwakili oleh Chinmi, Kenji, Saint Seiya, atau Tiger Wong; tapi juga komik untuk kalangan "abege" (anak baru gede) yang sedang mekar-mekarnya, seperti Candy-Candy atau juga komik jenaka seperti Kobo Chan. Dengan demikian komik buatan negeri kita sendiri makin tenggelam. Karena, sebelum komik Jepang melakukan ekspansi, komik Barat telah lebih dulu bercokol dan cukup punya penggemar fanatik, misalnya seri Walt Disney, lalu Asterix, Trigan, Si Janggut Merah, Tanguy & Laverdur, Tintin, dan masih banyak lagi lainnya. Belum lagi bila dihitung pula komik yang dimuat bersambung seperti Tarzan di harian Suara Merdeka, Garth di harian Kompas, yang masih bertahan sampai sekarang.


Seperti biasanya, muncullah suara-suara "nasionalis" yang menyayangkan mewabahnya komik asing. Yang mempertanyakan mengapa kita tidak memilih komik kita sendiri? Mengapa kita justru bangga dengan para pahlawan dari negeri-negeri (bekas) penjajah? Padahal komik kita tidak kalah bagusnya. Jangankan komik asing, komik kita sendiri pun pernah mengalami perlakuan yang kurang menyenangkan: pernah dituduh sebagai biang kemalasan dan merusak jiwa anak. Jadi wajar belaka bila komik asing lebih dikecam meski dalam kenyataan ternyata sangat disukai. Dan rasanya sulit menemukan seorang bocah yang jiwanya rusak karena komik asing.
Bagaimanapun pro dan kontra seputar merebaknya komik asing memang ada. Tapi bagaimanakah kondisi obyektif percaturan komik di negeri ini? Dari pengamatan di beberapa toko buku Yogyakarta yang terkemuka dan persewaan buku, memang komik asing lebih terhormat kedudukannya. Bahkan beberapa teman saya menyatakan bahwa komik asing lebih bagus. Lalu komik Indonesia? Jawabannya juga sama tidak mengejutkannya: jelek, kering, tidak menarik, terlalu menggurui. Boleh jadi pendapat tersebut belum tentu benar, apriori, karena ada yang belum pernah membaca komik Indonesia. Juga mungkin anggapan seperti itu adalah cerminan dari generasi yang kurang menghargai karya bangsa sendiri? Namun bagaimanapun, anggapan yan terlontar itu adalah fakta. Dan itu bisa dicari penjelasannya.
Meski tidak enak, tindakan membandingkan komik Indonesia dan komik asing tetap perlu dilakukan. Dari situ barangkali bisa diketahui sejauh mana ketertinggalan (buatan orang) Indonesia. Dalam tulisan ini saya akan melihat segi isi cerita, visualisasi dan beberapa faktor lain yang mempengaruhi. 



Bangkitnya Komik Indonesia
Seperti sudah saya sebut, kehadiran komik asing tak perlu diributkan. Tapi komik lokal tetap perlu dikembangkan lagi. Dengan semaraknya komik Indonesia siapa tahu bisa terungkap lebih dalam sebetulnya apa yang menjadi persoalan dalam keinginan orang Indonesia, bagaimana karakter orang Indonesia. Tentu saja banyak buku teks yang mengulas hal demikian. Tapi bila itu bisa dijabarkan melalui media komik, betapa hebatnya!
Komik Indonesia bisa menjadi media informasi yang menghibur sekaligus media hiburan yang informatif. Seperti halnya komik impor, seuniversal apapun nilai yang dibawa, ia tetap mengandung muatan lokal. Kita tak perlu bermimpi memperkenalkan muatan lokal itu pada pembaca asing. Menjabarkannya bagi pembaca bangsa sendiri saja sudah bagus.
Tidaklah adil bila kita mengatakan tidak ada komik Indonesia yang bagus. Komik buatan Dwi Koen yang dimuat di majalah Humor, Sawung Kampret, sebenarnya cukup bagus. Hanya sayang Sawung Kampret tidak tampil penuh warna, sebab dengan penuhnya ruang gambar warna hitam putih membuat komik jadi terkesan suram. Lain halnya kalau Dwi Koen menyisakan banyak bagian yang kosong seperti pada komik-komik Jepang. Ruang kosong itu bisa dibiarkan atau pun diramaikan oleh garis-garis lurus atau lengkung.
Sesungguhnya Sawung Kampret yang mengisahkan jalinan persahabatan antara pribumi dan orang Belanda yang penjajah waktu itu, mengandung gagasan yang sungguh cerdas. Hanya masih ada yang mengganjal, yaitu kekuatan naratif yang kurang terkendali. Juga ide ceritanya kurang jenial. Tapi kemampuan menggagas dan menuangkan cerita sebaiknya dipisahkan dari kemampuan menggambar. Dua kemampuan itu bisa saja ditangani oleh satu orang dan tetap bagus. Ini ditempuh oleh komikus Jepang. Tapi ya itu tadi, gambar yang dihasilkan terasa kering dan kurang indah. Rata-rata komik Perancis dikerjakan oleh pencerita dan ilustrator yang berbeda. Sebagai contoh : Asterix dikerjakan oleh Gosciny pada teks dan Uderzo bertindak selaku ilustrator. Dalam Komando Lebovic mengurusi narasi dan Jules menuangkannya dalam gambar. Pada Lucky Luke: Morris yang menggambar dan Gosciny yang bercerita. Untuk komik yang “kurang berat“ biasanya memang cukup dikerjakan oleh satu orang, misalnya Smurf oleh Peyo sendiri. Tapi komik yang begini kurang mendapat tempat jika si anak sudah beranjak dewasa. Menggagas dan merangkai cerita bukanlah hal mudah bila ingin mencapai hasil maksimal. Diperlukan studi yang mendalam untuk menghasilkan kelincahan memainkan fantasi dan realita, agar tidak kedodoran dan tampak dungu. Entah berapa buku yang harus dibaca Gosciny untuk mengerjakan komik mbambung semacam Lucky Luke yang mempermainkan dengan enaknya sejarah Amerika. Juga bukan pekerjaan gampang untuk membuat Asterix menjadi bahan bacaan berdimensi ganda, dalam arti tiap jenjang usia bisa tertawa oleh pelbagai sebab. Seorang bocah yang membaca Asterix mungkin akan tertawa melihat gaya Obelix mempermak tentara Romawi, tapi ia pasti tidak mengerti di mana lucunya ketika Obelix berkata “singularis porcus” ketika menyebut babi hutan kegemarannya. Atau ketika Asterix dan Obelix bermalam di kandang kambing, mereka berdua bertanya pada teman seperjalanan mereka, “Apa nama tempat ini?” Dan si teman menjawab, “Bethlehem.”
Komik memang bukanlah khusus untuk anak-anak. Namun seandainya Sawung Kampret dibukukan begitu saja, artinya dalam bentuk yang hadir di majalah Humor, tentu anak tidak menyukai keburaman yang ada dalam komik itu. Juga alur cerita yang kurang lancar membuat anak harus mengerutkan kening dan kemudian memilih komik yang lain.
Yang juga penting adalah perhatian terhadap daya fantasi kanak-kanak. Sekalipun kemasannya serius, seperti Si Janggut Merah, namun substansinya menawarkan fantasi bajak laut budiman yang malang melintang mempermalukan armada Spanyol atau Inggris. Bertualang mengarung tujuh lautan sungguh merupakan impian tentang kejantanan, yang diselingi dengan kebaikan budi. Fantasi kanak-kanak tampaknya lekang dengan bertambahnya usia. Di tempat persewaan buku atau toko buku, bisa anda lihat lihat seorang dewasa membaca komik. Ketika Batman difilmkan, ternyata bekas anak-anak yang dulu menggemari Batman masih bersemangat menonton filmnya. Bayangkan apa jadinya bila kisah Terjadinya Kota Banyuwangi yang difilmkan! Bisa kita tebak hasilnya.
Orang dewasa pun tetap punya fantasi kanak-kanak, disadari atau tidak. Atau paling tidak ada rasa rindu pada sesuatu yang riang, keriangan seorang anak. Itulah sebabnya seorang dewasa tetap membaca Donal Bebek. Tapi cobalah sodorkan komik Gareng, Petruk dan Bagong yang berusah tampil dalam kemasan guyon pada anak-anak. Pasti mereka sulit tertawa melihat gerutuan orang dewasa yang sama sekali tidak lucu itu.
Akhirnya harus diakui bahwa jalan panjang masih menunggu maraknya kembali komik Indonesia. Bisa saja komik pribumi sebagus komik asing, bahkan menyaingi atau pun melawannya, tapi untuk apa? Bagaimana pun kemenangan David melawan Goliath hanya adadalam kitab orang-orang terdahulu. Bisa memang kita menyaingi karya impor yang bersejarah panjang itu asal kita punya ramuan berkhasiat Panoramix.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar